menu

Ketika "Hoax" Menjadikan Manusia "Sesat Pikir"

Ketika "Hoax" Menjadikan Manusia "Sesat Pikir"
Inspired by : Riezal Indra Prakoso
Hoax | APutraDwijaya.ID
Ini adalah artikel ke-3 saya yang saya buat sekedar mengisi waktu luang di malam hari. Sudah cukup lama rentang waktu antara postingan terakhir yang saya terbitkan maret lalu. Keinginan untuk kembali menerbitkan tulisan itu muncul, namun dengan kekosongan ide. Tapi, seorang teman saya memberikan sebuah tema tulisan. Ya, Hoax adalah tema yang ia berikan. Cukup menarik untuk di bahas pada kesempatan kali ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia mampir di postingan ini. Semoga postingan ini bisa bermanfaat bagi kehidupan kita.

APutradwijaya.ID
Belakangan ini, berita hoax malang melintang di media sosial. Mulai dari soal agama, astronomi, hingga masalah politik. Di Indonesia, hoax paling laku adalah soal politik yang berbalut dengan agama. Pembaca sekaligus menjadi “loper koran”, turut menjualnya di lini masa. Korbannya pun tak pandang bulu, mulai dari orang awam yang percaya pada teori bumi datar, hingga Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin, yang terkecoh soal biaya visa haji.

Seorang filsuf sekaligus seorang ilmuwan psikologi, Karl Raimund Popper mengatakan bahwa realitas merupakan dunia ketiga, dunia yang berisikan pikiran manusia dan produk pikiran manusia. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa berita-berita yang bertebaran di media sosial, seperti Facebook, Twitter, Line, Instagram, hingga Whatsapp tergolong realitas semu.

Dalam keadaan seperti ini, berita-berita hoax harus direspons dengan pikiran. Ia tidak boleh dilawan dengan emosi. Hoax harus ditanggapi dengan kepala dingin, tanpa rasa benci, dan juga rasa sayang. Berita hoax selalu mempunyai ciri utama, yaitu sensasional. Kabar yang ditulis selalu “ajaib” dan menakjubkan. Tak jarang pula memancing kemarahan.

Orang yang sukses berinteraksi dengan berita hoax adalah manusia suprarasional. Mereka tidak hanya berdiri di atas akal sehat saja, tetapi juga berpijak pada kebenaran. Orang-orang seperti ini tidak menerima berita yang masuk akal saja. Mereka akan terus menggali kebenaran dari informasi yang di dapatkannya sampai ditemukan kebenaran yang hakiki.

“Berusahalah untuk berbicara apa adanya. Jangan tergoda untuk berkata bohong, meski untuk hal-hal yang sepele. Karena jika engkau lolos, maka akan menjadi sebuah kebiasaan” (Agung Putra Dwijaya)

Lalu bagaimana dengan mereka yang irasional dan sentimentil? Mereka akan jatuh. Emosi mereka tumpah. Mereka Baper. Mereka akan terombang-ambing oleh pikirannya sendiri. Jika seperti ini, mereka tidak mampu melihat dusta dibalik berita itu. Akhirnya apa yang terjadi? Mereka akan mengalami kecemasan informasi.

Mungkin pernyataan saya di atas dinilai berlebihan, tetapi satu hal yang perlu diperhatikan, hoax bisa membuat seseorang tergelincir ke dalam kecemasan jika ia malas berpikir. Seperti yang saya pelajari dalam Filsafat Ilmu dan Logika, orang-orang jenis ini, pada tingkatan tertentu bisa kehilangan eksistensi dirinya.

Berita Hoax Sangat Berbahaya
Dari data yang dihimpun oleh MAFINDO, teridentifikasi kini ada sekitar 20 situs yang memproduksi berita hoax Situs-situs ini biasanya dilatar belakangi oleh dua jenis kepentingan, yaitu motif ekonomi dan politik. Menurut Saptiaji Eko Nugroho, inisiator MAFINDO seperti dikutip dari Katadata, dengan kurs Rp13.300 per dolar AS, satu berita hoax nilainya bisa mencapai Rp1,33 juta. Nilainya makin bertambah jika berita itu viral dan merebak di masyarakat. Dalam setahun, situs-situs seperti itu, penghasilannya bisa mencapai hampir semiliar rupiah dalam setahun.

Contoh salah satu situs yang sudah ditutup oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, punya 300.000 kunjungan per hari. Jumlah ini bahkan melebihi kunjungan ke Taman Wisata Ancol.

Hoax Penculikan | APutraDwijaya.ID

Kasus lain yang cukup menyita perhatian adalah kabar hoax tentang penculikan anak yang melibatkan orang dengan gangguan jiwa. Hasilnya, kecemasan dan kepanikan melanda masyarakat. Kita curiga ke orang-orang baru yang memasuki lingkungan kita. Terutama, curiga kepada siapa pun yang tampak seperti orang dengan gangguan jiwa. Media mencatat sejumlah kasus penganiayaan terhadap orang gila akibat desas-desus itu. Dan celakanya, orang-orang gila itu tak lebih dari korban kabar bohong belaka.

Bukankah hal tersebut berbahaya? Selain melanggar undang-undang ITE, perbuatan ini juga bisa berpengaruh pada para pembaca. Akan muncul stigma dan sentimen ke salah satu pihak, padahal belum tentu pihak tersebut seperti yang ditulis dalam berita hoax tersebut. Akhirnya muncul kebencian dan saling serang. Tak hanya di media sosial, perang dingin ini terkadang dibawa ke dunia nyata. Pemukulan, pembunuhan, hingga bullying diberikan kepada pihak yang diberitakan. Akhirnya kedamaian yang diidam-idamkan harus sirna hanya karena sebuah tulisan hoax.

Mengapa Hoax Mudah Tersebar?
“Faktor penyebab kabar palsu mudah menjadi viral adalah urusan psikologis, yang dikenal dengan Dunning-Kruger effect. Dunning-Kruger effect berawal dari kisah McArthur Wheeler pada pertengahan 1980-an. Wheeler, warga Pittsburg, Amerika Serikat, dengan pede merampok tanpa senjata api. Senjata utama andalannya perasan air lemon. 
Pria 44 tahun itu punya hipotesis sederhana. Air perasan lemon, bisa digunakan sebagai tinta yang tak terlihat (invisible ink). Jika perasan air lemon dituliskan pada sebuah kertas, maka tulisannya tak terbaca. Tulisan itu baru bisa dibaca kalau didekatkan dengan panas. 
Nah, Wheeler melumuri kepalanya dengan perasan air lemon. Dalam benak Wheeler, wajahnya tak akan terlihat, sesuai hipotesis soal air lemon. Sebagai percobaan, ia mengambil swafoto (selfie) dengan kamera Polaroid. Entah kameranya yang sedang rusak, atau sebab lain, hasil foto itu tak menampilkan wajah Wheeler. 
Wheeler pun yakin dengan resep dan rencananya. Dia akhirnya merampok bank. Tanpa topeng apalagi penutup kepala. Tak hanya merampok satu bank, tapi dua sekalian. Wheeler berhasil membawa banyak uang. Ia langsung jadi kaya. Tapi hanya sebentar. 
Selang beberapa jam usai beraksi, wajahnya sudah nongol di layar kaca, dengan jelas. Alhasil, wajah itu mudah dikenali sebagai McArthur Wheeler. Pada hari yang sama, polisi dengan mudah meringkusnya.”
Dunning-Kruger Effect | APutraDwijaya.ID
Keajaiban Wheeler ini menarik perhatian dua peneliti psikologi sosial dari Cornell University; David Dunning dan Justin Kruger. Keduanya heran, apa yang menyebabkan Wheeler begitu percaya diri merampok bank hanya dengan melumuri wajahnya dengan air lemon. Apa yang membuatnya yakin, padahal tak punya pengetahuan tentang kimiawi?

Hasil penelitian menunjukkan, dalam konteks psikologi, makin minim pengetahuan atau pengalaman seseorang di suatu bidang, justru makin tinggi rasa percaya diri. Bahkan level kepercayaan dirinya, melebihi para ahli-ahli yang sudah berpengalaman di bidangnya. Orang-orang menengah, rasa percaya dirinya paling rendah. Para ahli, justru tak sepede orang-orang ini.

Selain itu, ada faktor kemampuan membaca juga mempengaruhi. Sebuah penelitian menyatakan bahwa berhadapan dengan internet butuh kemampuan membaca secara komprehensif. Penelitian di Amerika Serikat yang melibatkan 11 orang anak setingkat SD itu menyatakan bahwa keberhasilan menarik informasi dari internet melalui membaca, membutuhkan kemampuan yang kompleks.

Misalnya butuh pengetahuan yang diperoleh sebelumnya, mampu menarik kesimpulan dengan argumen yang tepat secara rasional, dan proses membaca yang terkendali. Kemampuan-kemampuan itu, mensyaratkan tingkat literasi yang tinggi. Semakin rendah kemampuan literasi seseorang, semakin sulit membedakan mana yang hoax dan bukan.

Jadi Apa Solusinya?
Lalu apa solusi untuk melawan hoax?. Apakah media massa berperan? Menurut saya, sama sekali tidak ada. Malah media sosial bisa disebut sebagai ladang pertumbuhan hoax. Karena salah satu prinsip media sosial yaitu menghormati kebebasan manusia untuk menyatakan pendapatnya. Jadi, mau-tidak mau manusia sendiri yang harus melawan hoax.

Lawan Hoax | APutraDwijaya.ID
Sebagai perlawanan, tanamkanlah dalam pikiran bahwa hoax adalah pikiran dan hasil pikiran kotor manusia. Berpikirlah secara rasional bahwa kemunculannya untuk menyerang pikiran kita. Karena hoax adalah hasil pikiran, maka lawanlah juga dengan pikiran. Jangan biarkan dirimu tersesat hanya karena dusta yang terselip dalam sebuah tulisan.

“Hoax adalah hasil pemikiran manusia. Cara termudah mengalahkannya adalah dengan ikut berpikir” (Agung Putra Dwijaya)

Sebagai mahasiswa psikologi, maka saya akan menyampaikan pandangan saya dalam konteks psikologi. Hoax beredar bukan karena kita mudah untuk dibohongi, tetapi karena kita kurang informasi. Kita akan mudah ditipu jika kita tidak mengetahui informasi yang sebenarnya. Untuk itulah kita harus lebih sering membaca agar bisa lebih kritis dalam memilih informasi. 

Selain itu, ketertarikan minat juga sangat mempengaruhi. Kita cenderung memilih informasi yang menarik dan disukai. Kita tidak akan lebih memilih membaca sebuah berita dari orang yang kita sukai dibanding orang yang kita benci. Walaupun berita itu direkayasa demi kepentingan salah satu pihak. Berusahalah untuk objektif dalam melihat suatu berita. Kita sebagai generasi yang hidup di zaman dengan kemudahan teknologi mestinya semakin kritis dalam menanggapi berita. Jangan sampai kita malah menjadi budak dari teknologi itu sendiri.

Catatan Penulis:
Jonah Berger seorang profesor dan penulis di bidang viral marketing dan komunikasi sosial dari universitas Stanford menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Contagious. Dalam bukunya tersebut disimpulkan bahwa konten berita yang mengandung unsur emosi negatif cenderung memacu pembacanya untuk berbagi dengan orang lain. Ada pula studi lain yang dilakukan oleh David Dunning dan Justin Kruger yang terinspirasi dari kisah perampokan lucu dan konyol di era tahun 80-an. Seorang pria yang bernama McArthur Wheeler gagah berani dan percaya diri untuk melakukan perampokan dengan bermodal hipotesa sederhana seperti yang sudah saya jabarkan di atas.

Fakta bahwa berita hoax tersebar dan dipercaya oleh orang-orang yang sama, semakin menegaskan studi di atas. Suatu bias kognitif di mana tingkat ketidakmampuan seseorang dalam mengenali kekurangan diri membuat mereka terjebak dalam standar abnormal tentang benar atau salah.

“Kamu tidak akan mau percaya dengan apa yang tidak kamu ketahui” (Agung Putra Dwijaya)


Download PDF dan Sumber Literatur Di Sini


*Tulisan ini tidak murni tulisan saya sendiri, terinspirasi dari berbagai sumber yang saya baca dan sudah berusaha menghubungi langsung ke penulis asli.
*Penggunaan Nama (Agung Putra Dwijaya) tidak berarti bahwa caption tersebut adalah hasil karya saya, tetapi hanya penggambaran Title Blog.

*Sumber literasi dicantumkan dalam bentuk file PDF yang dapat didownload
Bagikan Artikel Ini :)
Agung Putra Dwijaya

Adalah seorang mahasiswa dan juga blogger yang menginginkan adanya perubahan di setiap lini kehidupan. Perubahan bisa di raih dengan menyampaikan gagasan-gagasan ke muka umum, sehingga bisa ikut memberikan kontribusi yang positif bagi Indonesia.

Beri Komentar Di Postingan Ini

  • Untuk menulis huruf bold silahkan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic silahkan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline silahkan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought silahkan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML silahkan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silahkan parse dulu kodenya pada kotak parser di bawah ini.
Emoticon
Konversi Code
😊
😉
😀
😁
😎
😍
😜
😑
😇
💖
😯
😱
😭
👍
🍻

close