SARS-CoV-2: Benarkah Wabah Mematikan Baru di Abad ke-21?

2019-nCov | Aputradwijaya.ID

Informasi!
Semua informasi yang terdapat dalam tulisan ini bersumber dari situs-situs berita nasional yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers serta situs-situs berita internasional yang kredibel sehingga dapat dipertanggungjawabkan asal informasinya. Walaupun begitu, dalam tulisan ini masih terdapat beberapa dugaan yang masih perlu dicek kebenarannya. Apabila terdapat informasi terbaru, maka akan segera di update oleh penulis. Silahkan share tulisan ini agar semakin banyak yang mengetahui dan waspada terhadap penyebaran virus korona di dunia, khususnya di Indonesia

Media massa dan media sosial akhir-akhir ini dihebohkan dengan munculnya kasus wabah penyakit dengan nama 2019-nCov atau Novel Coronavirus, yang awalnya terindentifikasi di sebuah pasar makanan di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Virus ini awalnya diketahui pada tanggal 31 Desember 2019 setelah pemerintah China melaporkan kasus terinfeksi virus ini kepada World Health Organization (WHO). Gejala akibat virus ini dilaporkan terjadi pada 8 Desember 2019 dimana Saat itu ada sekitar 40 orang yang terjangkit virus misterius tersebut, yang kemudian diketahui bersumber dari virus korona jenis baru.
Artikel terkait: Koronavirus dan Pesan Bagi Kita Semua
Awalnya, pemerintah China berusaha menutupi kasus virus korona ini dari dunia internasional. Warga China yang menyebarkan informasi terkait virus ini melalui media online ditindak oleh pemerintah China, untuk kemudian ditangkap. Terungkap ada 8 orang yang dituduh menyebarkan berita bohong mengenai penyebaran virus korona yang akhirnya ditangkap (Poynter, 2019). Selain itu juga, wartawan diancam oleh pemerintah China saat akan melaporkan berita mengenai virus korona di kota Wuhan, China. Media berita dari Hongkong, yaitu TVB melaporkan bahwa sekelompok wartawan ditahan oleh sekelompok polisi berpakaian sipil di rumah sakit Jinyintan dan meminta mereka untuk menghapus materi terkait virus misterius tersebut (TVB, 2019).
Mencerdaskan kehidupan Bangsa | Aputradwijaya.ID
Kasus serupa juga dialami oleh reporter kantor berita Time, Charlie Campbell saat melaporkan kejadian serupa di pasar makanan laut yang di duga sebagai sumber wabah virus korona jenis baru. Charlie diancam berkali-kali saat akan merekam dan melaporkan suasana terkini di jalanan kota Wuhan (Time, 2020). Pemerintah China akhirnya buka suara dan melaporkan kejadian terinfeksinya virus ini kepada WHO setelah melihat dampak dari virus korona ini cukup serius. Akan tetapi, pemerinta China pada awal-awal pelaporan masih menganggap virus ini tidak serius dan mengaku dapat mengatasi dan mengendalikan penyebaran virus tersebut (The New York Times, 2020).

Karena informasi mengenai penyebaran virus ini hanya tersebar dalam lingkup pemerintah China dan juga WHO, maka belum ada langkah antisipasi yang dilakukan oleh dunia internasional. Sebuah Startup bernama BlueDot yang bergerak di bidang kesehatan merupakan sumber informasi pertama yang menyebarkan secara luas mengenai kemungkinan virus baru menyebar di Wuhan, China. BlueDot menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang dapat menjelajahi laporan berita berbahasa asing mengenai penyakit hewan dan tumbuhan (Kompas, 2020). Alhasil, BlueDot mendapatkan informasi dari media lokal asal China mengenai virus tersebut. Hasil data yang diperoleh kemudian difungsikan untuk memberi peringatan dan mengimbau masyarakat untuk menghindari zona bahaya seperti kota Wuhan terkait virus korona. Langkah ini kemudian diikuti oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat yang menyebarkan kabar terkait penyebaran virus korona pada 6 Januari 2020. Barulah pada tanggal 7 Januari 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan mengenai wabah virus korona jenis baru yang kemudian diberi nama 2019-nCov atau Novel Koronavirus kepada dunia internasional.

Apa itu 2019-nCov (Novel Koronavirus)
Virus korona jenis baru atau yang diberi nama 2019-nCov adalah salah satu anggota keluarga dari virus korona. Virus korona sendiri adalah virus dari keluarga Coronaviridae ayng dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia, termasuk manusia. Virus korona sendiri termasuk dalam jenis virus RNA positif, yang mana memiliki kemampuan untuk bermutasi 1000 kali lipat lebih cepat dibandingkan virus dengan genom DNA. Virus korona sendiri dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan utama, yaitu  golongan 1 dan 2 yang menginfeksi mamalia, mulai dari kelelawar hingga manusia, sedangkan golongan 3 hanya ditemukan pada spesies avian (burung). Infeksi yang disebabkan oleh virus ini dapat menimbulkan penyakit yang bervariasi, mulai dari tidak timbul gejala apapun sampai gejala yang fatal dan cepat. Infeksi korona virus dapat menyebabkan penyakit seperti bronkitis, ensafalitis, gastroenteritis, dan hepatitis.

Virus korona sebenarnya bukan virus yang baru, melainkan sudah teridentifikasi pada tahun 1937 dimana saat itu virus ini menyebar dari ayam lalu berpindah ke hewan mamalia lainnya. Kemudian pada tahun 1967 virus ini dilaporkan menginfeksi manusia. Sebenarnya virus korona diklaim ada di antara 1 dari 10 orang di dunia, yang artinya ketika kita mengalami batuk dan pilek maka sebenarnya virus korona sudah ada dalam tubuh manusia, namun belum berkembang atau tidak dapat berkembang karena adanya sistem imun atau antibodi dalam tubuh manusia yang kuat untuk menangkal virus ini bermutasi. Akan tetapi, virus korona yang menyebar di antara manusia tidak terlalu berbahaya, karena sistem imun yang dimiliki manusia dapat menangkal penyebaran virus ini menjadi fatal.

Virus korona sebenarnya jarang sekali berevolusi dan menjangkiti manusia langsung dari hewan dan hanya mencebar antar manusia, akan tetapi kasus baru di China ini mengindiaksikan bahwa virus korona dapat berevoluysi dan bermutasi sehingga dapat menyebar langsung dari hewan ke manusia. Hal inilah yang membuat virus korona jenis baru berbahaya, karena sistem imun yang dimiliki oleh manusia tidak dapat menahan virus dari hewan. Selain itu juga virus korona jenis baru ini belum memiliki vaksin dan obat yang dapat mengobati pasien yang terinfeksi, sehingga penyebarannya akan sangat cepat.

Virus korona sendiri juga diklaim merupakan keluarga besar dari virus yang menyebabkan penyakit flu hingga penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang muncul pada November 2002 di China dan penyakit MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang muncul pada April 2012 di Yordania. Akan tetapi penyebaran virus SARS dan MERS sudah dapat ditekan karena sudah ada vaksin dan obat untuk menanganinya.

Penularan virus ini dari manusia ke manusia pertama kali terkonfirmasi di Guandong, China menurut Zhong Nanshan, kepala tim komisi kesehatan yang menyelidiki wabah tersebut. Para ilmuwan menyatakan bahwa setiap orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus ke antara 1,4 – 2,5 orang. Angka ini dinamakan nomor reproduksi dasar (R0) dalam epidemiologi yaitu ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor yang terkait di tingkat populasi. Ketika R0 > 1, infeksi akan dapat menyebar dalam suatu populasi dan menjadi epidemi atau penyakit yang timbul sebagai kasus baru pada suatu populasi tertentu manusia, dalam suatu periode waktu tertentu, dengan laju yang melampaui laju ekspektasi (dugaan), yang didasarkan pada pengalaman mutakhir.


Bentuk Virus Korona | Aputradwijaya.ID
Mengapa dinamakan Korona?
Korona sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu korona yang artinya adalah mahkota. Penampakan virus ini mirip dengan korona matahari, yaitu bagian paling luar dari atmosfer matahari yang memiliki ciri masa jenis rendah dan temperatur yang tinggi. Korona matahari sendiri tidak dapat langsung terlihat dari bumi, kecuali pada saat terjadinya gerhana matahari total atau dengan bantuan teleskop yang presisi.

Cara penyebaran virus
Koronavirus bisa menyerang siapa saja, tak peduli usia maupun jenis kelamin. Akan tetapi, ada sejumlah faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan terinfeksi virus ini, yaitu:
-Orang lanjut usia
-Anak-anak
-Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah

Virus korona jenis baru atau 2019-nCov menyebar melalui cairan saat batuk atau bersin. Penyebaran ini mirip dengan penyebaran virus SARS dan MERS yang diperkirakan melalui cairan yang dihasilkan ketika seseorang bersin atau batuk (Tirto, 2020). Selain itu juga seorang tenaga medis dari China, dr. Wang Guangfa mengatakan bahwa virus korona dapat menyebar melalui mata, ataupun sentuhan tubuh dimana terdapat cairan yang menempel akibat dari bersin dan batuk. Kejadian ini merupakan kejadian yang tidak biasa karena sangat jarang virus dapat ditularkan melalui media tersebut (MailOnline, 2020). Bahkan informasi terbaru mengatakan bahwa virus korona dapat menyebar walaupun penderita belum menunjukkan gejala atau masih dalam masa inkubasi (CNN Indonesia, 2020).

Gejala yang ditimbulkan
Gejala yang ditimbulkan oleh virus 2019-nCov hampir sama dengan gejala influenza menurut WHO. Virus ini akan menyerang bagian pernapasan. Berdasarkan data dari pasien yang sudah terinfeksi virus korona, diketahui bahwa gejala yang ditimbulkan antara lain demam, batuk, dan sesak napas. Selain itu menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pasien yang terinfeksi korona akan menderita penyakit pernapasan ringan hingga berat. CDC juga menjelaskan lebih lanjut bahwa gejala virus korona akan muncul dalam 2 sampai 14 hari setelah seseorang terpapar virus korona. Kesimpulan ini didasarkan pada masa inkubasi virus MERS (IDNTimes, 2020).

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa gelaja virus korona adalah batuk, demam, dan juga sesak napas. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Subandrio yang mengatakan bahwa gejala umum yang dialami yaitu demam, batuk, dan juga sesak nafas atau bahkan kesulitan bernapas (CNN Indonesia, 2020).

Gejala-gejala tersebut sangat umum saat dialami dan diobservasi, sehingga banyak orang yang tidak mengetahuinya. Hal ini juga yang menyebabkan virus 2019-nCov cepat menyebar ke seluruh dunia. Seorang dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mengatakan bahwa ketika seseorang memiliki gejala batuk, demam, dan sesak napas belum dapat dikatakan terinfeksi virus korona, karena harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk dapat mengkonfirmasi apakah terinfeksi virus korona atau tidak. Akan tetapi, ketika seseorang memiliki riwayat berkunjung ke China dan mengalami gejala tersebut, maka akan dikategorikan suspect (terduga) yang kemudian akan diberi penanganan lebih lanjut seperti diisolasi dan diambil sampel darahnya untuk diuji laboratorium (AyoBandung, 2020).

Guna memastikan apakah keluhan yang Anda alami terkait dengan Koronavirus, dokter perlu melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan, yang meliputi:

Anamnesis, adalah tahapan di mana dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait dengan keluhan yang dirasakan

Pemeriksaan fisik, adalah tahapan di mana dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien yang sekiranya dapat mengarah pada adanya infeksi. Di tahap ini, pasien juga diperiksa tekanan darah, tinggi, dan berat badannya

Pemeriksaan penunjang, adalah tahap lanjutan untuk menguatkan hasil diagnosis. Jenis pemeriksaan penunjang yang umum dilakukan seperti uji sampel darah dan biopsi sampe liur
Gejala Virus Korona | Aputradwijaya.ID
Cara pencegahan 2019-nCov (Novel Koronavirus)
Pada kasus gejala yang menunjukkan penyakit pernapasan akut sebelum, selama, atau setelah perjalanan, para pelancong dianjurkan untuk mencari perhatian medis dan berbagi riwayat perjalanan dengan penyedia layanan kesehatan. Otoritas kesehatan masyarakat juga harus memberikan informasi kepada para wisatawan untuk mengurangi resiko umum infeksi saluran pernapasan akut lewat praktisi kesehatan, klinik kesehatan, agen perjalanan, operator transportasi, dan titik-titik masuknya wisatawan. WHO juga menyarankan agar tidak menerapkan pembatasan lalu lintas internasional berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

WHO juga mengeluarkan rekomendasi standar bagi masyarakat umum untuk mengurangi risiko penularan berbagai penyakit meliputi kebersihan tangan, pernapasan, dan praktik makanan yang aman. Adapun pencegahan penularan virus korona dari WHO adalah sebagai berikut:
  • Sering membersihkan tangan dengan sabun dan air berbasis alkohol
  • Saat batuk dan bersin, tutup mulut dan hidung dengan siku tertekuk atau tisu. Segera buang tisu dan cuci tangan
  • Hindari kontak dekat dengan siapapun yang menderita demam dan batuk
  • Jika menderita demam, batuk, dan sesak nafas, segera cari perawatan medis lebih awal dan bagikan riwayat perjalanan sebelumnya dengan penyedia layanan kesehatan
  • Ketika mengunjungi pasar langsung di daerah yang saat ini mengalami kasus koronavirus, hindari kontak langsung tanpa perlindungan dengan hewan hidup dan permukaan yang bersentuhan dengan hewan
  • Konsumsi produk hewani mentah atau setengah matang harus dihindari. Daging mentah, susu, atau organ hewani harus ditangani dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi silang dengan makanan mentah, sesuai praktik keamanan yang baik
Selain itu, hindari juga menyentuh mata, mulut, hidung dengan tangan yang tidak bersih, memakai masker saat berada di luar ruangan dan di tempat-tempat umum, beristirahat yang cukup, perbanyak minum air putih dan makan makanan yang bergizi.

WHO memberikan saran untuk skrining keluar di negara atau daerah dengan transmisi virus korona baru 2019-nCov sebagai berikut:
  • Melakukan penyaringan keluar di bandara dan pelabuhan internasional di daerah yang terkena virus corona, dengan tujuan deteksi dini wisatawan yang memiliki gejala virus tersebut untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut
  • Skrining keluar termasuk memeriksa tanda-tanda dan gejala (demam di atas 38 derajat dan batuk)
  • Melakukan wawancara terhadap penumpang dengan gejala infeksi pernapasan yang meninggalkan daerah yang terkena virus corona. Hal tersebut berkaitan dengan potensi paparan kontak yang berisiko tinggi atau ke sumber hewan
  • Mengarahkan wisatawan yang memiliki gejala untuk lebih lanjut melakukan pemeriksaan medis, diikuti dengan pengujian untuk 2019-nCoV dan menjaga pasien yang dikonfirmasi dalam isolasi dan perawatan
  • Mendorong skrining di bandara domestik, stasiun kereta api, dan stasiun bus jarak jauh seperlunya
  • Wisatawan yang memiliki kontak dengan kasus yang dikonfirmasi atau paparan langsung ke sumber infeksi potensial harus ditempatkan di bawah pengawasan medis
  • Seseorang yang memiliki kontak dengan pasien berisiko tinggi harus menghindari bepergian selama durasi masa inkubasi (hingga 14 hari)
  • Menerapkan kampanye informasi kesehatan di titik masuk untuk meningkatkan kesadaran mengurangi risiko umum infeksi saluran pernapasan akut dan tindakan yang diperlukan
Sementara itu, WHO juga memberikan beberapa saran skrining masuk di negara atau wilayah tanpa penyebaran virus corona baru 2019-nCoV seperti:
  • Bukti menunjukkan bahwa skrining suhu untuk mendeteksi infeksi virus corona mungkin meleset dari pelancong yang menginkubasi penyakit atau menyembunyikan demam selama perjalanan. Namun, sebagian besar kasus terdeteksi melalui skrining suhu saat masuk dan dikaitkan dengan deteksi dini penumpang simtomatik untuk tindak lanjut medis
  • Skrining suhu harus selalu disertai dengan penyebaran pesan komunikasi risiko di titik masuk. Ini dapat dilakukan melalui poster, selebaran, buletin elektronik, dan lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di antara para pelancong tentang tanda dan gejala penyakit. Serta mendorong pasien mencari perawatan kesehatan, termasuk kapan harus mencari perawatan medis, dan melaporkan sejarah perjalanan mereka
  • Negara-negara yang menerapkan penyaringan suhu diimbau untuk membangun mekanisme yang tepat untuk pengumpulan dan analisis data. Seperti jumlah penumpang yang di-skrining dan kasus yang dikonfirmasi keluar dari penumpang yang diskrining, dan metode penyaringan
Langkah Pencegahan | Aputradwijaya.ID
Pengobatan 2019-nCov (Novel Koronavirus)
Infeksi yang ditimbulkan virus korona 2019-nCov sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk mencegah ataupun obat untuk mengobatinya, karena wabah 2019-nCov masih tergolong baru. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan penanganan medis sedini mungkin sebelum kondisi bertambah parah. Oleh sebab itu ketika ada orang yang diduga terkena virus korona akan dilakukan perawatan khusus di ruang isolasi untuk mencegah efek fatal akibat virus korona.

Akan tetapi, ada beberapa klaim dari tenaga medis yang mengatakan bahwa pemberian obat-obatan khusus flu dan demam seperti aspirin, ibuprofen, acetaminophen dan sebagainya dapat mengurangi sedikit gejala. Pemerintah China juga tengah menguji coba obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) sebagai penyembuhan gejala virus korona yang cepat menular. Aluvia, yang juga dikenal sebagai Kaltera merupakan kombinasi lopinavir dan ritonavir. Ini adalah jenis pengobatan oral yang diberikan kepada pasien penderita infeksi HIV (Republika, 2020). Dalam panduan yang dirilis pada Kamis, pemerintah China menyebutkan tidak ada obat antivirus yang efektif namun pihaknya menyarankan agar mengkonsumsi dua pil lopinavir/ritonavir dan satu dosis interferon alfa dua kali sehari (Reuters, 2020).

Akan tetapi, Ilmuwan Amerika Serikat sedang berupaya mengembangkan vaksin untuk melawan virus korona yang baru. National Institutes of Alergy and Infectuous Diseases adalah Lembaga yang meneliti dan mengembangkan vaksin virus korona. Akan tetapi, butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum vaksin ini memasuki tahap ujicoba klinis. Langkah yang sama juga dilakukan oleh Rusia, dimana para ilmuwan Rusia dari Departemen Pengawasan Epidemiologi Rospotrebnadzor sedang mengembangkan vaksin virus korona jenis baru. China sebagai negara asal virus korona juga sednag mengembangkan vaksin dan berkerjasama dengan Amerika Serikat, serta berharap vaksin dapat diujicoba lebih cepat (Liputan6, 2020).

Ilmuwan dari Australia mengklaim telah berhasil menduplikat virus korona penyebab wabah di China. Hal ini merupakan suatu terobosan yang signifikan yang kemudian akan dibagikan kepada WHO sebagai langkah diagnosa dan pengobatan bagi pasien terinfeksi virus 2019-nCov. Sebelumnya ilmuwan China juga telah berhasil mencipta ulang virus dengan urutan genomnya. Adanya duplikasi virus ini sebagai langkah lanjutan dalam proses penelitian dan penegmbangan vaksin 2019-nCov (AyoBandung, 2020).

Jumlah Korban 2019-nCov (Updated)
Berdasarkan data dari ARCGIS, jumlah orang yang terkonfirmasi terinfeksi virus korona jenis baru mencapai jumlah 85.406 orang dengan 2.924 diantaranya meninggal dan 39.597 orang lainnya dinyatakan bebas korona (Update 29 Februari 2020, pukul 17:19). Terdapat 61 negara yang sudah mengonfirmasi kasus positif korona di negaranya, antara lain:
China sebanyak 79.251 kasus, 
Korea Selatan sebanyak 3.150 kasus
Italia sebanyak 889 kasus
Korban di kapal pesiar sebanyak 705 kasus
Iran sebanyak 388 kasus
Jepang sebanyak 234 kasus
Singapura sebanyak 96 kasus
Hongkong sebanyak 94 kasus
Amerika Serikat sebanyak 64 kasus
Perancis sebanyak 57 kasus
Jerman sebanyak 48 kasus
Kuwait sebanyak 45 kasus
Thailand sebanyak 41 kasus
Taiwan sebanyak 39 kasus
Bahrain sebanyak 38 kasus
Spanyol sebanyak 35 kasus
Australia sebanyak 25 kasus
Malaysia sebanyak 25 kasus
Inggris Raya sebanyak 20 kasus
Uni Emirat Arab sebanyak 19 kasus
Vietnam sebanyak 16 kasus
Kanada sebanyak 15 kasus
Swedia sebanyak 11 kasus
Makau sebanyak 10 kasus
Swiss sebanyak 8 kasus
Irak sebanyak 8 kasus
Israel sebanyak 7 kasus
Norwegia sebanyak 6 kasus
Oman sebanyak 6 kasus
Austria sebanyak 6 kasus
Kroasia sebanyak 5 kasus
Libanon sebanyak 4 kasus
Yunani sebanyak 4 kasus
India sebanyak 3 kasus
Filipina sebanyak 3 kasus
Finlandia sebanyak 3 kasus
Rumania sebanyak 3 kasus
Belanda sebanyak 2 kasus
Rusia sebanyak 2 kasus
Pakistan sebanyak 2 kasus
Meksiko sebanyak 2 kasus
Afganistan sebanyak 1 kasus
Nepal sebanyak 1 kasus
Lithuania sebanyak 1 kasus
Kamboja sebanyak 1 kasus
Georgia sebanyak 1 kasus
Irlandia Utara sebanyak 1 kasus
Nigeria sebanyak 1 kasus
Algeria sebanyak 1 kasus
Islandia sebanyak 1 kasus
Belgia sebanyak 1 kasus
San Marino sebanyak 1 kasus
Denmark sebanyak 1 kasus
Makedonia Utara sebanyak 1 kasus
Monako sebanyak 1 kasus
Belarus sebanyak 1 kasus
Selandia Baru sebanyak 1 kasus
Brazil sebanyak 1 kasus
Estonia sebanyak 1 kasus
Mesir sebanyak 1 kasus
Azerbeijan sebanyak 1 kasus
Sri Lanka sebanyak 1 kasus
(Update 29 Februari 2020, pukul 10:17:30. Bagi anda yang berniat memantai secara online, dapat mengunjungi situs berikut ini ARCGIS Online.

Pasien Korona |Aputradwijaya.ID
Beberapa tenaga medis juga menajdi korban dari virus ini, dari informasi yang didapat, ada beberapa dokter dan tenaga medis lain yang meninggal setelah merawat pasien korona. Beberapa pakar kesehatan juga mengatakan ada sekitar 100.000 orang di berbagai negara mungkin sudah terinfeksi Coronavirus jenis baru. Prediksi para pakar kesehatan ini muncul ketika pemerintah Inggris menghadapi seruan untuk meyakinkan public bahwa layanan kesehatan nasional negaranya siap untuk menangani kasus 2019-nCov (Kompas, 2020). Profesor Neil Ferguson mengatakan bahwa tebakan saat ini adalah 100.000, meskipun hanya ada 4000-an kasus yang teridentifikasi. Hal ini didasarkan pada berkembang dengan cepatnya jumlah korban yang terinfeksi dalam hitungan hari. Selain itu juga akses informasi yang diberikan oleh pemerintah China mengenai perkembangan informasi jumlah korban diragukan oleh beberapa pakar kesehatan dunia.

Selain itu juga beredar beberapa video dari seorang wanita yang diyakini sebagai tenaga medis di China yang mengaku bahwa virus korona sudah menginfeksi 100.000 orang. Pesan suara tersebut dibagikan oleh kantor berita Global Himalaya yang mengklaim berasal dari anggota medis di Wuhan. Dalam video tersebut dikatakan bahwa wabah ini menginfeksi lebih banyak orang dibanding yang diberitakan oleh pemerintah China. Selain itu juga terdapat pengakuan yang mengatakan bahwa pemerintah tidak mendukung dengan pasokan medis, serta ada lebih dari 100 orang terinfeksi dalam sehari. Wanita itu juga menginformasikan untuk tidak mempercayai pemerintah dan mengklaim virus dapat berevolusi dan menimbulkan gejala baru seperti batuk darah (Global Himalaya, 2020).

Konspirasi dan Hoax yang beredar
Media sosial juga heboh terkait kabar yang beredar terkait virus korona jenis baru. Salah satunya merupakan akibat dari bocornya laboratorium biologi yang memusatkan penelitian dalam pengembangan virus di kota Wuhan, China. Informasi ini awalnya diterbitkan oleh Washington Times yang memuat artikel online dengan judul "Virus-hit Wuhan has two laboratories linked to Chinese bio-warfare program" pada Jumat 24 Januari 2020. Artikel tersebut memuat hasil wawancara dengan mantan pejabat intelijen militer Israel, Dany Shoham. Shoham mengatakan bahwa virus korona kemungkinan berasal dari Wuhan Institute of Virology.
Kabar 1 | Aputradwijaya.ID
Kabar 2 | Aputradwijaya.id
Masih dalam artikel tersebut, Shoham juga mengatakan bahwa virus korona termasuk dalam program senjata biologis China. Shoham juga mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada bukti atau indikasi insiden semacam itu. Pernyataan Shoham terkait dugaan tersebut tidak didasarkan bukti. Namun, narasi-narasi di media sosial tidak mencantumkan hal terseebut dan berkembang menjadi hoax yang tersebar di masyarakat. Situs pemeriksa fakta dari Khazakhtan, Factcheck yang memiliki asosiasi dengan Poynter Institute for Media Studies melakukan konfirmasi kepada Shoham dan diketahui bahwa Shoham tidak mengatakan bahwa virus itu merupakan program senjata biologis China yang bocor, akan tetapi masih merupakan dugaan. Sehingga kabar ini masih bersifat dugaan dan tidak memiliki dasar yang jelas. Informasi yang berkembang di media sosial terkait program senjata biologis untuk pemusnahan massal kepada kelompok tertentu merupakan Hoax, sampai ditemukan fakta baru yang bia menguatkan klaim tersebut.
Kutipan dari Washington Times | Aputradwijaya.ID

Kementerian Komunikasi & Informatika (Kemenkominfo) juga mencatat 19 hoaks atau berita bohong yang berkaitan dengan virus corona yang berasal dari Wuhan, China. Isu hoaks ini tersebar dan viral di media sosial. Plt. Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu mengatakan hoaks-hoaks ini diidentifikasi oleh mesin pengais konten (AIS) milik Kemenkominfo. Berikut 19 isu hoaks virus corona dilansir dari CNN Indonesia:
  • Kurma Harus Dicuci Bersih Karena Mengandung Virus Corona yang Berasal dari Kelelawar
Beredar di Facebook informasi mengenai anjuran dari dokter dan menteri kesehatan di Timur Tengah untuk mencuci bersih kurma sebelum dikonsumsi karena mengandung Virus Corona yang berasal dari kelelawar. Faktanya, menurut pakar kesehatan dr. Eko Budidharmaja kabar tersebut tidak benar, sebab mencuci kurma sebelum dikonsumsi tidak akan mampu mensterilkan virus. Selain itu Eko menyebut Virus Corona cenderung ditularkan melalui udara, khususnya dari orang-orang yang sudah terinfeksi virus ini melalui bersin dan batuk. Sehingga tidak benar bila disebarkan oleh kelelawar.
  • Ada Virus Berbahaya di RSUP Dr. Sardjito
Beredar pesan berantai di WhatsApp berisi tangkapan layar percakapan mengatasnamakan Kabag OP Sarjito. Dalam pesan berantai tersebut, seorang pria memberikan imbauan adanya virus berbahaya di RSUP Dr. Sardjito. Dalam pesan disebutkan bahwa teman-teman penumpang taksi online atau konvensional bila menjemput penumpang diharuskan untuk memakai masker sehubungan dengan penyebaran virus Wuhan dari China dan pagi ini sudah ada 2 perawat yang tertular.
Faktanya, Kasubag Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito, Banu Hermawan menjelaskan bahwa sampai saat ini berita yang berisi himbauan mengenakan masker ketika ke RSUP Sardjito karena rawan terjangkit penyakit menular adalah berita bohong. Banu Hermawan juga mengkonfirmasi bahwa pesan adanya dua perawat yang tertular virus berbahaya itu juga merupakan hoaks. Pasalnya, menurut Banu, seluruh perawat yang bertugas di Sardjito dalam kondisi siap siaga dan tidak ada yang tertular penyakit pasien.
  • Virus Corona Diduga Sudah Menyebar dan Masuk ke Indonesia di Gedung BRI 2
Beredar informasi yang menyatakan virus corona sudah menyebar dan masuk ke Indonesia. Kasus pertama terjangkitnya nCov atau virus corona di Indonesia berasal dari pekerja Huawei warga negara asal China yang bekerja di Gedung BRI 2, Benhil, Jakarta Pusat. Faktanya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, yang menyempatkan berkunjung ke Wisma BRI 2 menyatakan karyawan Huawei tersebut hanya radang tenggorokan. Ia menjamin, virus corona belum terdeteksi masuk ke Indonesia. Terawan menegaskan untuk tidak berasumsi terkait penyebaran virus corona, tanpa adanya diagnosis yang pasti dari dokter, rumah sakit, atau Kementerian Kesehatan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso juga membantah tegas adanya virus di lingkungan BRI. Ia menyatakan tidak ada pegawai yang terbukti mengidap virus tersebut.
  • Virus Corona Sudah Masuk di Jakarta, 1 Pasien di RSPI Sulianti Saroso Jakarta Sedang Diisolasi
Beredar sebuah informasi di media online yang menyebutkan bahwa virus corona sudah masuk di Jakarta, 1 Pasien di RSPI Sulianti Saroso Jakarta sedang diisolasi. Faktanya, pasien yang diduga terjangkit virus corona tersebut telah dinyatakan negatif. Direktur Medik dan Keperawatan RSPI Sulianti Saroso dr Diany Kusmowardhani mengatakan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan negatif virus corona. Sebelumnya, pasien sempat di suspect karena memiliki riwayat perjalanan dari China dan mengalami demam hingga sesak napas.
  • Orang Terinfeksi Virus Corona di Rumah Sakit Wahidin Makassar
Beredar postingan Facebook, dengan narasi yang menyebut ada satu orang yang dicurigai terinfeksi virus corona di rumah sakit Wahidin Makassar dan tengah diisolasi. Faktanya, Direktur Utama RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Khalid Saleh mengatakan bahwa kabar adanya pasien dengan diagnosa mengidap virus corona yang dirawat di RSUP Dr Wahidin adalah tidak benar. Melainkan, pasien tersebut hanya mengidap sakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
  • Kepanikan Luar Biasa Orang-Orang China Akibat #VirusCorona
Beredar potongan video di media sosial dengan narasi "Kepanikan luar biasa orang-orang china akibat #VirusCorona, lalu bagaimana kepanikan orang2 #Uyghur saat kalian teror dengan teror di luar batas prikemanusiaan?? Ini hanya sedikit balasan dari Allah didunia ini akibat China memusuhi islam," Faktanya, video yang beredar bukanlah video kepanikan warga China yang diakibatkan virus corona. Melainkan, potongan video pekerja Guangdong yang kembali ke Yulin untuk merayakan Festival Musim Semi. Fakta lainnya narasi yang beredar salah sehingga menimbulkan premis yang tidak sesuai dengan konteks sesungguhnya dari video tersebut.
  • WNA Asal China Terserang Corona di RSU Dr Soetomo Surabaya
Beredar melalui media sosial Facebook tentang Warga Negara Asing (WNA) asal China terserang Virus Corona di RSU Dr Soetomo Surabaya. Faktanya, setelah ditelusuri berita tersebut tidak benar. Humas RSUD Dr Soetomo Pesta Parulian mengatakan pasien asal China itu disebut tidak terjangkit Virus Corona.
  • Pasien Umur 7 Bulan Meninggal karena Virus Corona di RSUD DR. Soetomo
Beredar informasi di media sosial yang menyebutkan adanya pasien berumur 7 bulan meninggal karena terserang Virus corona di RSUD DR. Soetomo Surabaya. Faktanya, informasi tersebut dibantah oleh RSUD Dr. Soetomo melalui akun Twitternya @rsudrsoetomo yang menegaskan sampai saat ini di RSUD Dr. Soetomo belum ada pasien yang menunjukkan diagnosa sebagai infeksi dari Virus Corona. Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Virus Corona Dapat Dicegah dengan Rutin Minum Air Putih dan Menjaga Tenggorokan Tetap Lembap
Beredar sebuah pesan berantai di sosial media Whatsapp yang menyebutkan bahwa virus corona dapat dicegah dengan cara rutin minum air putih dan menjaga kelembapan tenggorokan. Pada narasi pesan berantai disebutkan bahwa informasi itu berasal dari Kementerian Kesehatan. Faktanya, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr Anung Sugihantono mengatakan pesan tersebut bukan dikeluarkan oleh Kemenkes. Setelah ditelusuri, pesan berantai serupa ditemukan dalam Bahasa Inggris dan sudah dinyatakan hoaks oleh Kemenkes Singapura
  • Sup Kelelawar Penyebab Virus Corona
Beredar informasi di media sosial Facebook yang menyebutkan bahwa penyebab penyakit yang mematikan yaitu Virus Corona disebabkan oleh hidangan sup kelelawar, yang dijual di Restoran di kota Wuhan China. Faktanya, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto membantah soal Kelelawar ada hubungannya dengan Virus Corona. Beliau mengatakan bahwa itu adalah hoaks, Kelelawar dan semacamnya tidak ada hubungan dengan virus corona. Selain itu, Erni Juwita Nelwan Perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mengatakan bahwa Virus Corona awalnya menyerang hewan, seperti kelelawar. Namun, jika sudah dijadikan sup, seharusnya virus sudah mati.
  • Vaksin Virus Corona Sudah Ada dan Dikembangkan Sebelumnya
Beberapa postingan di media sosial yang mengklaim bahwa sebuah virus corona telah ada dan dikembangkan sebelumnya. Klaim itu secara luas dibagikan dalam sebuah grup anti-vaksin di Facebook, menyebutkan beberapa pengguna mengatakan penyakit ini bisa menjadi rencana pemerintah untuk memvaksinasi lebih banyak orang. Postingan itu disertai tautan link patents.justia.com yang sudah ada sejak 2015. Faktanya, virus corona tersebut berbeda dengan yang menyebabkan SARS. Virus Corona tersebut berbeda dari jenis penyakit yang terjadi di Wuhan. SARS-CoV sendiri merupakan beta coronavirus yang menyebabkan sindrom pernapasan akut parah. Mesh Adalja, sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Universitas John Hopkins mengatakan saat ini tidak ada vaksin yang tersedia untuk virus corona yang berasal dari Wuhan.
  • Baru Datang dari Malaysia, Seorang Pasien Meninggal Mendadak Diduga Terkena Virus Corona
Beredar sebuah postingan di Instagram berisi foto gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soedarso Pontianak disertai keterangan yang menyebutkan seorang warga yang baru datang dari Malaysia mendadak meninggal diduga terkena virus corona. Faktanya, tim peneliti Hoax Crisis Centre (HCC) Kalbar, menemukan bahwa informasi yang diposting tersebut itu tidak ada kaitannya dengan virus corona.
  • Pasien Corona di RSUD Dr Moewardi Solo
Beredar pesan berantai pada WhatsApp yang menyebutkan bahwa terdapat pasien di RSUD Moewardi Solo dikarenakan terjangkit virus corona tipe baru. Faktanya, berita tersebut tidak benar atau hoaks, sesuai dengan keterangan dari Kepala Subbag Hukum dan Humas RSUD Moewardi Solo, Eko Haryati. Eko menambahkan bahwa belum ada pasien suspek virus corona dan pihak rumah sakit sampai saat ini baru menyiapkan segala fasilitasnya jika nanti ada pasien suspek virus tersebut.
  • Penyembuhan Virus Corona dengan Bawang Putih
Beredar sebuah informasi di media sosial berupa tata cara pengolahan bawang putih yang diklaim dapat menyembuhkan korban yang terinfeksi virus corona. Faktanya, menurut Ahli vaksin dari OMNI Hospitals Pulomas, dr Dirga Sakti Rambe, klaim bawang putih dapat menyembuhkan virus corona bisa dipastikan tidak benar alias hoaks. Menurutnya hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang teruji bisa menghalau virus. Ditegaskan juga oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan dr. Wiendra Waworuntu bahwa belum ada vaksin maupun obat untuk Virus Corona baru ini.
  • HP Xiaomi Buatan China Dapat Menularkan Virus Corona
Diunggah di media sosial sebuah himbauan yang memberitakan bahwa virus corona dapat ditularkan melalui server pada ponsel Xiaomi buatan China. Unggahan tersebut mendapatkan banyak tanggapan dari para warganet di media sosial. Faktanya, menurut Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes RI Achmad Yurianto menjelaskan virus corona tidak bisa hidup jika menempel di benda mati. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Mohammad Faqih juga menjelaskan bahwa Virus Corona 2019 Novel Coronavirus atau 2019-nCoV bisa menular antar manusia lewat batuk dan bersin hingga lewat makanan tercemar air liur orang yang terinfeksi virus tersebut. Penularan virus corona juga dapat berasal dari hewan ke manusia.
  • Korban Meninggal Terkena Virus Corona di Singapura
Telah beredar pesan di HardwareZone yang berisi kabar bahwa terdapat korban meninggal satu orang akibat virus korona di Singapura. Faktanya, kabar tersebut telah diklarifikasi oleh otoritas atau Pemerintah Singapura menyebut informasi di forum HardwareZone bahwa ada seorang warga yang meninggal di rumah sakit akibat virus korona merupakan berita hoaks.
  • Virus Korona Sengaja Disebarkan Rezim Tiongkok untuk Membasmi Umat Islam di Wuhan
Beredar sebuah narasi bahwa virus corona sengaja disebarkan rezim di Wuhan, Hubei, Tiongkok dimaksudkan untuk membasmi umat Islam yang jumlahnya sangat banyak dan berkembang di wilayah tersebut. Faktanya, persebaran umat Islam di Wuhan tidak terlalu signifikan, mayoritas penduduk Wuhan ialah beragama Animisme. Muslim di Wuhan hanya 1,6 persen dari 11 juta penduduk Wuhan. Agama Islam-pun masih kalah jumlah dengan Kristen yang hampir 3 persen. Maka tuduhan bahwa virus korona sengaja disebarkan terkait bahwa Wuhan Menjadi salah satu kota dengan persebaran Muslim paling besar adalah tidak mendasar.
  • Penumpang Meninggal Karena Virus Corona di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
Beredar sebuah pesan berantai di media sosial WhatsApp, yang berisikan sebuah foto seorang penumpang meninggal karena Virus Corona di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Faktanya, Senior Manager of Branch Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta PT Angkasa Pura II, Febri Toga Simatupang, membantah kalau foto yang beredar tersebut meninggal karena virus corona, Menurut Febri, penumpang yang meninggal tersebut karena gagal jantung
  • Pasien Terjangkit Virus Corona Di RSHS Bandung
Beredar informasi di media sosial Twitter, yang menyebutkan bahwa di RSHS Bandung sudah ada seorang yang kena virus Corona. Faktanya, menurut Staf Khusus Presiden bidang Sosial Angkie Yudistia ia mengatakan bahwa dua pasien yang diduga terpapar virus corona di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung itu hoaks. Selain itu juga dibantah oleh Direktur Utama RSHS Jawa Barat, Nina Susana Dewi, yang mengatakan agar masyarakat tidak resah dan gelisah terhadap dugaan dua pasien yang terpapar Virus Corona. Ia pun menegaskan jika informasi di luar yang menyebutkan adanya pasien positif terkena virus Corona itu hoaks

Langkah Pemerintah dan Perusahaan China hadapi penyebaran virus 2019-nCov (Novel Koronavirus) Updated
Pemerintah China dalam konferensi persnya mengatakan akan terus melakukan upaya untuk mencegah virus meluas. Termasuk menjalin komunikasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu juga pemerintah China telah melakukan pemeriksaan darurat terhadap suhu tubuh para pasien di luar sumah sakit. Beberapa staf juga ditugaskan mendisinfeksi bus di stasiun bus. Adanya pemeriksaan suhu tubuh penumpang pintu keluar negara. Mendisinfeksi taksi di sebuah titik layanan taksi. Melakukan pemberitahuan terhadap kondektur kereta mengenai pekerjaan disinfeksi di stasiun kereta api (Gatra, 2020).

Selain itu, pemerintah China juga memutuskan untuk menutup delapan kota di provinsi Hubei untuk menekan penyebaran virus korona. Fasilitas umum seperti layanan transportasi termasuk stasiun, bandara, dan kereta bawah tanah serta pusat perbelanjaan dan ruang publik berubah sepi. Pemerintah China juga memperpanjang masa liburan Imlek dengan tujuan mengurangi jumlah berkumpulnya massa dan memblokir penyebaran epidemik. Kegiatan belajar mengajar juga diliburkans ampai ada kepastian lebih lanjut terkait virus korona (CNN Indonesia, 2020).

Perusahaan teknologi China seperti Xiaomi, Meizu, WeChat, Douyin, dan Baidu berupaya membantu menekan penyebaran virus. Perusahaan-perusahaan itu mengedukasi dan membantu masyarakat di China. Xiaomi mengirimkan masker N95, medical, dan thermometer senilai 300.000 Yuan ke kantor pusat pengendalian dan pencegahan epidemi di Wuhan. Meizu juga mengumumkan telah menyumbangkan 300.000 Yuan untuk memerangi wabah virus korona di kota Wuhan. Huawei juga menunda konferensi pengembangan HDC yang akan dilaksanakan pada bulan Februari mendatang untuk mencegah penularan virus.

Retailer online terbesar di China seperti JD, Taobao, Suning akan membekukan harga barang-barang medis penting seperti masker dan disinfektan pada platform mereka. Karena semenjak ada berita wabah, barang-barang tersebut harganya melonjak tajam. Mereka juga akan menyumbangkan 1 juta masker dan 60 ribu pasokan medis ke Wuhan secara berkelompok. Regulator penerbangan China juga telah mengumumkan pengembalian uang kepada para pembeli tiket pesawat yang dipesan sebelum 24 Januari 2020. Beberapa maskapai juga memberlakukan pembatalan gratis untuk tiket yang telah dipesan.
Warga di Wuhan memakai Masker | Aputradwijaya.ID
Tiktok juga mempunyai halaman khusus yang berguna untuk menginformasikan pengguna mengenai virus korona dan statusnya saat ini. Tiktok juga menambahkan efek video khusus Jiayou untuk menawarkan dukungan kepada para staf medis dan pasien melawan virus di Wuhan. Platform tiket film online seperti Taopiaopiao dan Maoyan menawarkan pengembalian uang tanpa syarat untuk tiket yang telah dipesan. Aplikasi pengiriman makanan popular seperti Meituan Dianping dan Ele telah berjanji melanjutkan operasi seperti biasa selama periode ini agar para masyarakat dapat memesan makanan dari rumah mereka.

Aplikasi perpesanan paling popular di China, WeChat juga memiliki peta khusus Fever Clinic yang menunjukkan kemana anda harus pergi untuk pemeriksaan. Sementara itu, Baidu juga memiliki halaman anti-pneumonia khusus di aplikasinya yang diperbaharui dengan b erita terkait virus korona. Hal terbaik dari Baidu Maps adalah peta panas termal yang memberikan pemandangan jalan-jalan sibuk secara real-time. Peta berfungsi untuk menghindari jalan yang ramai.

Tanggapan WHO mengenai 2019-nCov (Novel Koronavirus) Updated
World Health Organization (WHO) menghimbau masyarakat dunia untuk berjaga-jaga, karena dikhawatirkan virus ini bisa menajdi wabah penyakit baru. WHO juga mengeluarkan surat edaran mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi koronavirus. Panduan tersebut dikeluarkan sebagai pencegahan infeksi dan pengendalian epidemi dan infeksi saluran pernapasan akut. WHO menjelaskan cara menangani pasien terjangkit virus korona yaitu kontrol sumber, penerapan tindakan pencegahan standar untuk semua pasien dan tindakan penyebaran, termasuk dengan karantina.

Untuk tim medis yang menangani pasien dengan virus korona, diharapkan menggunakan prosedur tambahan. Tak hanya masker, tim juga harus mengunakan pelindung mata atau baju yang tahan air. Selain itu, disarankan saat menangani pasien dengan virus korona menggunakan alat sekali pakai. Untuk pencegahan terjangkit virus korona, WHO juga mengimbau masyarakat untuk hidup sehat, termasuk mengatur pola makan dan tetap bugar. Selain itu, menggunakan masker apabila diperlukan, tutup mulut ketika batuk dengan siku dan mencuci tangan.

Selain itu, WHO akan meninjau dan mendukung upaya untuk menyelidiki sumber hewan dari wabah, tingkat penularan dari manusia ke manusia, upaya penyaringan di provinsi-provinsi lain di China, peningkatan pengawasan untuk infeksi, dan memperkuat tindakan penanganan dan mitigasi. Akan tetapi sampai saat ini WHO belum menerbitkan darurat kesehatan global terhadap wabah virus korona jenis baru, karena meranggapan situasi belum terlalu parah dan hanya terjadi di lokal China. Namun, komite kesehatan akan kembali melakukan pertemuan untuk memutuskan langkah yang akan diambil terkait perluasan penyebaran virus 2019-nCov.

Langkah negara lain dalam upaya pencegahan 2019-nCov (Novel Koronavirus) Updated
Beberapa negara melakukan langkah antisipasi dalam penyebaran virus korona di wilayahnya. Inggris mengeluarkan travel warning ke China kepada masyarakatnya. Selain itu Philipina juga memutuskan untuk menyetop penerbitan visa bagi warga China. Beberapa negara lain seperti Jepang, Malaysia, Perancis, Australia, Jerman, Korea Selatan, Vietnam, Kamboja dan lainnya juga melarang warganya untuk berkunjung ke China. Bahkan negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Perancis, Khazakhtan, Maroko, Spanyol, Inggris, Kanada, Rusia, Belanda, Myanmar, Malaysia dan Indonesia memutuskan untuk mengevakuasi warga negaranya dari kota Wuhan. Banyak negara juga memutuskan untuk menyetop penerbangan ke China, khususnya ke kota Wuhan demi mengindari penyebaran virus korona. Pemerintah dalam negeri beberapa negara juga sudah mengantisipasi dengan memasang thermal scanner untuk memantau suhu tubuh wisatawan. Sudah disediakan juga rumah sakit khusus untuk orang-orang yang terindikasi terjangkit virus korona.

Informasi terkait 2019-nCov (Novel Koronavirus) di Indonesia Updated
Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memastikan bahwa penyebaran virus korona jenis baru tidak sampai ke Indonesia. Pemerintah juga akan terus mengawasi penyebaran virus ini dan memastikannya untuk tidak berkembang di Indonesia. Presiden Joko Widodo juga telah meminta kepada jajaran terkait untuk lebih sigap dalam mencegah penyebaran virus di Indonesia. Beberapa langkah yang sudah dilakukan antara lain memperketat kedatangan wisatawan, khususnya dari mancanegara di pintu-pintu masuk negara dengan cara memasang pemindai suhu panas sebagai langkah antisipasi. Pemerintah juga telah menyiapkan ribuan rumah sakit yang siap menjadi rujukan jika ada pasien yang diduga terinfeksi virus korona.

Kementerian Luar negeri juga sudah memberikan travel advice kepada para wisatawan yang akan berkunjung ke China, serta sementara menutup penerbangan dari dan ke China. Indonesia juga sudah memberlakukan travel warning ke China, serta melarang pengunjung dari China untuk masuk dan transit di Indonesia. Indonesia juga memutuskan untuk menangguhkan sementara visa bagi masyarakat China dan menyetop impor makanan dari China.

Indonesia juga mengkonfirmasi akan memulangkan warga negara Indonesia yang berada di kota Wuhan. Pesawat Batik Air sudah melakukan penjemputan kepada 237 WNI dan1 WNA dari Wuhan, China untuk selanjutnya dilakukan karantina di pulau Natuna. TNI sudah menyiapkan 3 pesawat guna melakukan penjemputan terhadap 243 WNI yang sampai di Batam untuk selanjutnya dialihkan ke Natuna. Dua pesawat Boeing 737 dan satu Hercules C137 telah disiapkan untuk melakukan evakuasi, serta menyiapkan personel dari abtalion kesehatan. Hal ini merupakan hasil rapat antara Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan , Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Luar Negeri (Kompas, 2020).

Ada beberapa kabar yang beredar di media massa bahwa terdapat beberapa orang yang suspect korona di Sorong, Jambi, Jakarta, Bandung dan Bali, akan tetapi hasil pemeriksaan masih menunjukkan negatif dan merupakan gejala flu biasa, sehingga sampai saat ini Indonesia masih aman dari penyebaran virus korona. Namun, Indonesia juga harus waspada terhadap penyebaran virus ini, jangan sampai tindakan serius baru dilakukan setelah ada korban yang terjangkit di Indonesia. Dikonfirmasi juga bahwa terdapat satu orang WNI positif mengidap korona di Singapura. Belum jelas Identitas yang bersangkutan, namun diketahui bahwa yang bersangkutan adalah seorang wanita berusia 44 tahun yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Singapura.

Catatan Penulis
Penulis mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang sudah cukup tegas dan serius dalam menangani penyebaran virus korona. Penulis juga mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang sudah melakukan evakuasi terhadap warga negara Indonesia di Wuhan, China dan berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan. Diberlakukannya travel warning, penyetopan penerbangan dari dan ke China, serta menyetop sementara impor makanan dari China adalah langkah yang tepat untuk saat ini. Namun, penulis juga tetap ingin pemerintah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan giat agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Penulis juga berharap penyebaran virus ini dapat ditekan penyebarannya sehingga sedikit orang yang terinfeksi. Pemerintah China juga diminta untuk membuka informasi seluas-luasnya dengan jujur terkait kasus virus korona agar negara lain dapat melakukan penanganan yang serius.


Artikel terkait: Koronavirus dan Pesan Bagi Kita Semua

Sumber Referensi

Antara News

ARCGIS

Ayo Bandung

Bharian

CNBC Indonesia

CNN Indonesia

Detik

Facebook

Factcheck

Gatra

HaloDoc

IDN Times

Indozone

Inews

Indonesia Inside

Kompas

Liputan 6

Medcom

New York Times

Okezone

Rakyatku

Republika

Reuters

Suara

Tirto

Warta Ekonomi

Washington Times

Wikipedia

No comments:

Post a Comment